Friday, November 15, 2019

Pembangkit Berbahan Kayu

Tidak hanya bisa nikmati listrik sepanjang 24 jam non-stop, warga di Pulau Kundur, Kabupaten Tanjung Balai Karimun (TBK) yang bersebelahan langsung dengan Singapura serta Malaysia sekarang berkantong tebal.




Masalahnya di Pulau Kundur ada pembangkit listrik tenaga gasifikasi biomass (PLTGB) yang bahan bakarnya datang dari kayu. Operator PLTGB ialah PT Sempurna Gasifikasi Indonesia (PGI), paling tidak sehari-harinya memerlukan kayu bakar sekitar 40 ton.

Untuk penuhi keperluan itu, Direktur Penting PT PGI Steve Kosasih menjelaskan sejumlah besar bahan bakar dibeli dari warga seputar.

Baca Juga : Biaya Kuliah UNESA

"Kita punyai kebun kaliandra, tetapi kita beli kayu dari warga," tutur Kosasih waktu lalu pada detikcom.

Kosasih menerangkan, tiap bulannya PT PGI habiskan dana kira-kira Rp 300 juta untuk penuhi bahan bakar pembangkit, terhitung beli semua kayu yang di jual oleh warga seputar.

Kayu yang di jual masyarkat, lanjut Kosasih, tidak dipastikan serta dibatasi atau kayu pohon apa dapat digunakan untuk PLTGB yang ada di daerah tepian ini.

"Langkah pembelian kayu dari masyarakat, masyarakat yang menebang kayunya diletakkan di tepi jalan, kelak ada petugas akan mengambil menggukan truk, serta langsung di bawa serta ke pabrik," jelas ia.

Sekarang, Kosasih akui sedang menggerakkan warga seputar untuk menanam pohon kaliandra yang dapat dipanen 2x pada sebuah tahun. Pohon kaliandra, kata Kosasih mempunyai kekuatan jadi bahan bakar penting PLTGB.

"Kita menggerakkan masyarakat menanam, diantaranya kaliandra, kita kerja sama juga dengan Pemda untuk dorong penanaman, kita membantu sisi pembibitan," jelas ia.

Baca Juga : Universitas Negeri Surabaya

Menurut Kosasih, dengan masyarakat menanam pohon kaliandra juga yang akan datang dapat memberi banyak faedah tidak hanya memperoleh uang hasil dari jual kayunya. Tempat saat panen dapat ditanami sayuran yang cepat tumbuh. Hingga mempunyai keuntungan ganda.

Saat ini, disebutkan Kosasih jika warga seputar masih terlatih menanam sembarangan type pohon. Serta, kayu yang dijualnya juga termasuk datang dari pohon tua. Hingga tempat yang ada belum termanfaatkan dengan optimal.

"Sebab kita butuhkan Rp 300 juta untuk bahan bakar dari masyarakat. Dampaknya benar-benar bagus, habis itu dapat tanam cabai, kelapa, saat ini trend tanam durian. Saat ini jika tebang tidak langsung divakar, saat ini disimpan serta dibakar dipembangkit," papar ia.

No comments:

Post a Comment